Pada suatu sore, aku sedang duduk di teras dekat pintu gerbang dengan
teman-temanku cewek dan beberapa cowok. Tiba-tiba ada beberapa cowok
datang dan mengumpat teman-temanku cowok. Cowok-cowok itu ikut duduk di
satu tempat yang sama di bawah pepohonan sambil sesekali saling
mengumpat. Aku sepertinya mengenal beberapa dari cowok-cowok itu. Tapi
entah kapan dan dimana. Aku tidak paham mengapa mereka bisa saling
mengumpat dan memusuhi teman-temanku. Hingga tak terasa hari semakin
gelap. Tak kusangka tiba-tiba salah satu cowok dari cowok-cowok itu
mendekatiku dan mengatakan sesuatu.
"Ayo pulang bareng," katanya.
"Iya." Jawabku.
Anehnya aku langsung mengiyakan, padahal aku belum terlalu kenal dengan
cowok itu. Bagaimana dia bisa mengajakku, apa dari tadi dia sudah
memperhatikanku. Sebenarnya aku pernah mengenalnya, tetapi aku lupa
kapan mengenalnya. Di suatu tempat atau hanya di dalam mimpi aku juga
tak ingat.
Setelah aku mengiyakan, dia langsung memakai sepatu dan berjalan duluan
hingga di seberang jalan. Aku sedikit kecewa. Kalau dia mengajak aku
pulang bareng kan seharusnya dia menungguku. Tapi kok dia malah
meninggalkan aku dan berjalan duluan. Dugaanku salah. Di seberang jalan
itu dia berhenti dan tersenyum ke arahku yang sedang terburu-buru
berjalan menyusulnya. Aku tak tahu mengapa mau diajak olehnya. Padahal
jika cowok itu musuhnya temanku, seharusnya aku lebih memilih temanku
dan tak mau jika diajak olehnya. Sebaliknya dia juga, mestinya dia lebih
memilih temannya daripada aku.....
Oh akupun tahu, alasan dia berjalan duluan meninggalkanku. Itu dia
lakukan agar teman-temannya tak tahu kalau dia ngajak jalan aku.
Kamipun berjalan berdampingan di bawah langit yang mulai gelap. Aku
sempat panik ketika bertemu temanku maupun temannya tadi. Kami berniat
untuk bersembunyi agar tidak diledek. Tetapi ternyata teman-teman yang
melihat kami biasa-biasa saja dan tidak mengolok-olok kami.
Sebelum pulang kami masih ingin jalan-jalan dulu berdua. Kami berjalan
terus menyusuri jalan yang belum pernah kami lewati. Hingga akhirnya
kami menemui jalan buntu di halaman rumah orang. Kami berhenti sebentar
mencari jalan keluar. Tak berapa lama ada seorang wanita yang jalan
melewati jalan itu. Wanita itu terus saja berjalan dan akhirnya lompat
melewati pagar rumah orang. Ternyata dibalik pagar ada jalan keluar.
Aku dan dia saling berpandangan dan tersenyum, tahu apa yang akan kami
lakukan. Kami bergegas menuju pagar untuk melompat. Sebelum sempat
melompat ada pemilik rumah yang mengetahui keberadaan kami.
"Pagarnya tak akan dibuka jika belum pagi." Katanya.
Kamipun bersalaman dengan pemilik rumah itu. Sebagai kenangan, aku
memberikan sebuah cincin yang ada batu mutiara putih yang berkilau di
atasnya. Cincin itu pemberian temanku dulu. Setelah itu kami segera
pergi untuk meloncati pagar tadi.
"Mbak, Mas terima kasih ya. Cincinnya bagus sekali." Katanya sambil
masuk ke rumahnya.
Kami hanya tersenyum dan menuju pagar tadi. Ketika kami akan melompat
pagar itu tiba-tiba membuka sendiri. Kami sempat kaget, kok bisa
membuka. Katanya tadi hanya dibuka jika pagi. Aku dan dia saling
berpandangan. Oh, mungkin sebagai rasa terima kasih karena tadi sudah
aku kasih cincin. Kami pun tertawa dan segera keluar.
Kami berjalan lurus hingga tiba-tiba kami bertemu dengan teman-teman
kami tadi. Aku dan dia ketakutan dan hendak berlari. Tetapi mereka malah
melarang dan mengajak kami untuk makan bersama. Setelah dibujuk
temannya diapun mau makan bersama. Sementara temannya yang lain terus
mengejarku agar aku mau makan bersama dengan mereka. Tetapi aku tetap
berlari dan tidak mau makan bersama mereka meskipun aku tadi juga
melihat ada beberapa temanku yang ikut di sana. Aku bingung tadinya
temanku dan temannya saling mengumpat dan bermusuhan, tapi sekarang kok
malah baikan dan makan bersama?
Aku memilih menunggu di rumah seorang nenek yang kebetulan sedang duduk
di teras rumahnya. Temannya sempat membujukku lagi, tetapi aku tetap
tidak mau. Hingga akhirnya acara makan-makan selesai. Aku sempat
meliriknya, berjalan lagi melewati jalan di depan rumah nenek. Aku
melihatnya berjalan di samping temanku. Lalu aku berpura-pura mengajak
bicara sang nenek. Temanku berhenti dan mencoba mengajakku.
"Ayo ikut nggak jalan-jalan."
Awalnya aku hanya menggeleng. Tetapi mereka seperti terus memaksaku
untuk ikut.
"Ayo. Cuma jalan-jalan aja kok sampai sana lalu kembali."
Setelah aku pikir-pikir akhirnya aku mau. Toh juga ada dia nanti.
Akupun berjalan menuju ke jalan menyusul temanku. Tetapi aku heran kok
aku malah ditinggal sih. Terus kok dia nggak ada? Katanya tadi lurus kok
dia nggak ada, masak dia dan teman-temannya tadi belok. Aku bingung
sendiri, lalu ada ibu di warung yang bertanya.
"Mbak, anak-anak tadi sudah mulai apa belum? Atau mereka tadi belok?"
"Maksudnya bagaimana sih Bu?"
Aku semakin bingung ada apa sih. Aku terus saja berjalan lurus.
Tiba-tiba dari belakang aku mendengar ada yang melantunkan salawat nabi
seperti yang dinyanyikan ketika di resepsi pernikahan, si pengantin
wanita bertemu dengan sang lelaki. Bersamaan dengan itu pula, dia dan
teman-temannya muncul dari balik pagar. Aku semakin bingung dan malu.
Temannya menggandengku dan diapun digandeng oleh teman-temanku. Aku dan
dia berusaha mengelak saat akan didekatkan. Hingga kami pun terjatuh.
"Nggak, aku baru sekali ini kok punya pacar." Kataku ketakutan.
Teman-teman kemudian bertanya dan mendesaknya.
"Ada apa kamu dengan dia?" Tanya teman-teman.
"Nggak. Aku baru pertama kali ini. Sungguh. Sebenarnya ayahku tak
membolehkan aku pacaran." Katanya ketakutan.
Setelah dia mengatakan hal
itu, entah mengapa aku merasa bersalah. Karena sebenarnya ini bukan
pertama kalinya bagiku. Dulu aku juga pernah punya pacar.
"Lalu kamu kok bisa dengan dia?" Tanya temannya lagi.
"Aku juga tidak tahu." Katanya.
"Kamu juga sepertinya lebih muda darinya." Kata temannya.
Dan itu
membuatku sedikit sakit hati.
"Aku juga tahu kalau aku lebih muda." Katanya.
"Lalu kamu yakin ingin melamar dan melakukan ijab qobul dengan dia?"
Tanya teman-temannya.
"Iya. Kalau dia...eh mbaknya mau ya...." Katanya sambil melempar senyum
manis ke arahku.
"Eh ciyeeee...."
Teman-teman menyorakki dan melanjutkan untuk bersalawat nabi untuk kami
berdua....
Aku tidak habis pikir, ini rencana dia atau rencana teman-temanku dan
teman-temannya.
Ya Tuhan...